Topik 4
DOA
Karya: Chairil Anwar
kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cahyaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
Pada dasarnya, dalam puisi ini, Chairil mengungkapkan betapa dahsyatnya kehadiran Tuhan atas manusia. Puisi ini menggambarkan penghancuran diri sang penyair, yang akhirnya menyadarkannya bahwa ia hanya bisa mengandalkan Tuhan. Secara tidak langsung Chairil menyarankan pada dirinya sendiri agar mengingat dan menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa ketika sedang gelisah dan bingung. Saat Chair dalam keadaan gila dan bingung, dia tetap berdzikir (mengingat) Tuhan. Dialah yang membantu setiap orang dalam kesulitan dan membutuhkan perlindungan.
Bait kedua menjelaskan klaim Chairil tentang kondisi pribadinya. Saat suasana semakin kacau, dia justru mengingat bahkan keberadaan Tuhan dalam realitas kehidupan ini. Dialah yang menawarkan bantuan dan solusi untuk semua masalah yang mengelilinginya saat itu. Dalam puisi ini, Chairil digambarkan sebagai orang yang percaya bahwa hanya Tuhan yang dapat memberikan petunjuk dan menunjukkan jalan keluar dari permasalahan yang sedang dihadapinya. Kata CahayaMu adalah kehangatan suci berarti cahaya (petunjuk) ilahi yang memberi kehidupan bagi setiap makhluk yang ada. Dalam keadaan sulit yang dialaminya saat itu, Chairil benar-benar berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ia percaya bahwa ia tidak dapat berbuat apa-apa kecuali dengan izin dan kuasa Allah. Semua ketetapan takdir yang menimpanya percayalah kepada-Nya.
Tuhanku // aku hilang bentuk // remuk (bait 4 dan 5)
Saat itu, Chairil benar-benar merasa berada di titik terendah. Garis-garis itu menggambarkan kesadaran Chairil bahwa selama ini ia jauh dari Tuhan. Memang saat itu dia tidak bisa berpaling dari-Nya, dia sangat membutuhkan pertolongan-Nya, karena dia tahu hanya Tuhan yang bisa membantunya. Puisi di atas menggambarkan realita pergolakan batin yang dialami Chairil Anwar saat itu. Ketidakberdayaan dan gejolak batin Chairil karena dirundung masalah yang akhirnya menyadarkannya akan keberadaan dan kebesaran Tuhan. Putus asa, sepi, sendiri dan rindu membuat Chairil merasakan kehadiran Tuhan, meski masih ada pintu Tuhan yang coba ia ketuk. Chairil sadar bahwa dia jauh dan dia sangat ingin jarak ini hilang dan memungkinkan dia untuk bersatu dengan Tuhan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar