Selasa, 09 Mei 2023

Kritik Struktur Cerita

Topik 6

"Perempuan, Golf, dan Peluru" karya M. Shoim Anwar

1. Tema: Tema cerpen ini adalah konflik moral Konflik moral yang dihadapi oleh seorang atlet golf yang juga bekerja sebagai pembunuh bayaran. Cerita ini mengangkat pertentangan antara kepentingan ekonomi dan prinsip hidup, serta menunjukkan betapa sulitnya mempertahankan integritas dalam situasi yang tidak ideal. 

2. Penokohan (tokoh dan karakternya): Karakter utama dalam cerpen ini adalah Aryanti, seorang atlet golf yang meraih kesuksesan di masa lalu namun menghadapi masalah keuangan setelah kehilangan ayahnya. Dia digambarkan sebagai sosok yang berintegritas tinggi dalam olahraga golf, namun terpaksa bekerja sebagai pembunuh bayaran untuk membayar hutangnya. Meski karakter Aryanti cukup kompleks dan menarik, penokohan tokoh lainnya seperti Ismi dan pria misterius yang menawari Aryanti pekerjaan pembunuh bayaran terasa kurang terdefinisi dengan baik. 

3. Alur: Alur cerpen ini cukup lancar dan mudah dipahami. Namun, terdapat beberapa bagian yang terasa terlalu cepat atau terlalu lambat, sehingga cerita terkadang terasa tidak seimbang. Sebagai contoh, ketika Aryanti yang seorang pegolf profesional mulai melakukan pekerjaannya sebagai pembunuh bayaran, pengembangan alurnya terasa terlalu singkat dan kurang memadai. Padahal, pekerjaan pembunuhan Aryanti sebenarnya bisa menjadi alur utama yang menarik dan memikat pembaca, namun dalam cerpen ini ia hanya menjadi salah satu alur sampingan yang tidak terlalu mempengaruhi klimaks cerita. Dalam cerita ini, terdapat beberapa bagian yang terasa terlalu cepat, seperti ketika Aryanti diberi misi untuk membunuh target pertamanya. Tanpa terlalu banyak pengembangan karakter, Aryanti dengan cepat berhasil menyelesaikan tugasnya, sehingga pembaca kurang merasakan kesulitan atau tantangan dalam pekerjaannya. Selain itu, terdapat juga beberapa bagian yang terasa terlalu lambat, seperti ketika Aryanti menghabiskan waktu di klub malam, yang terlalu banyak diceritakan dan tidak terlalu berpengaruh pada perkembangan cerita secara keseluruhan. Selain itu, pengembangan alur mengenai pekerjaan pembunuhan Aryanti terasa kurang memadai dan akhirnya hanya menjadi salah satu alur sampingan yang tidak terlalu mempengaruhi klimaks cerita. 

4. Latar: Latar dalam cerpen ini menggambarkan dua dunia yang kontras, yaitu dunia golf dan kehidupan malam di Jakarta. Dunia golf digambarkan sebagai tempat yang mewah dan eksklusif, dengan lapangan hijau yang luas dan fasilitas yang lengkap. Sedangkan, kehidupan malam di Jakarta digambarkan sebagai tempat yang gelap dan misterius, dengan klub malam yang ramai dan penuh dengan kerumunan orang yang berpesta. Meskipun tidak terlalu mendetail, latar dalam cerpen ini mampu memberikan suasana yang tepat untuk memperkuat konflik dalam cerita. Latar golf memberikan kesan elit dan kejamnya dunia bisnis, sementara latar kehidupan malam memberikan kesan kebebasan dan ketidakpastian. Kedua latar tersebut berhasil memperlihatkan kontras antara kehidupan karakter utama, Aryanti, yang bekerja di dunia golf yang keras dan kejam, dengan kehidupan malam yang misterius dan penuh ketidakpastian. 

5. Sudut pandang: Cerpen ini ditulis dengan sudut pandang orang ketiga, yang memungkinkan pembaca untuk melihat cerita dari berbagai sudut pandang. Meskipun demikian, sudut pandang ini terkadang terasa kurang dalam menggambarkan pikiran dan perasaan karakter utama, khususnya Aryanti sebagai tokoh utama dalam cerpen ini. Pembaca mungkin tidak dapat sepenuhnya memahami motivasi dan perasaan Aryanti dalam mengambil keputusan yang sulit, seperti mempertaruhkan nyawanya untuk membunuh seseorang demi mendapatkan uang. Sudut pandang orang ketiga yang digunakan dalam cerpen ini terkadang juga membatasi keterlibatan emosional pembaca dengan karakter-karakter dalam cerita. Sebagai contoh, ketika Aryanti harus menghadapi konflik batinnya sendiri, pembaca mungkin tidak merasakan dengan mendalam bagaimana Aryanti sebenarnya merasa. Namun, secara keseluruhan, sudut pandang orang ketiga dalam cerpen ini masih mampu menggambarkan cerita dengan baik dan memberikan pemahaman yang memadai terhadap alur dan konflik cerita.

Puisi Perlawanan Karya Wiji Thukul

Topik 5


Sikap

Karya Wiji Thukul


Maunya mulutmu bicara terus

Tapi telingamu tak mau mendengar

Maumu aku ini jadi pendengar terus

Bisu

Kamu memang punya tank

Tapi salah besar kamu

Kalau karena itu

Aku lantas manut

Andai benar

Ada kehidupan lagi nanti

Setelah kehidupan ini

Maka akan kuceritakan kepada semua makhluk

Bahwa sepanjang umurku dulu

Telah kuletakkan rasa takut itu di tumitku

Dan kuhabiskan hidupku

Untuk menentangmu

Hei penguasa dzalim

Puisi ini ditulis oleh Wiji Thukul pada masa Orde Baru. Puisi ini menggambarkan bentuk pemberontakan pengarang sebagai rakyat melawan pemerintah. Sosok yang digambarkan, memiliki jiwa pemberontak tidak takut apa saja. Dalam puisi ini, penulis juga berbicara tentang tokoh-tokoh yang memiliki semangat membara untuk menentang pemerintahan yang tirani karena tidak pernah membiarkan orang berbicara atau mengungkapkan aspirasi kewarganegaraannya. 

Wiji Thukul memiliki kemampuan untuk menyampaikan pesannya dengan lantang dan diterima dengan baik oleh para pembacanya, memungkinkannya untuk menyampaikan pesan dengan kata-kata yang mudah dipahami oleh masyarakat umum.

Kritik Puisi Religius

Topik 4


DOA

Karya: Chairil Anwar


kepada pemeluk teguh

Tuhanku

Dalam termangu

Aku masih menyebut namaMu

Biar susah sungguh

mengingat Kau penuh seluruh

cahyaMu panas suci

tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk

remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku

di pintuMu aku mengetuk

aku tidak bisa berpaling


Pada dasarnya, dalam puisi ini, Chairil mengungkapkan betapa dahsyatnya kehadiran Tuhan atas manusia. Puisi ini menggambarkan penghancuran diri sang penyair, yang akhirnya menyadarkannya bahwa ia hanya bisa mengandalkan Tuhan. Secara tidak langsung Chairil menyarankan pada dirinya sendiri agar mengingat dan menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa ketika sedang gelisah dan bingung. Saat Chair dalam keadaan gila dan bingung, dia tetap berdzikir (mengingat) Tuhan. Dialah yang membantu setiap orang dalam kesulitan dan membutuhkan perlindungan. 

Bait kedua menjelaskan klaim Chairil tentang kondisi pribadinya. Saat suasana semakin kacau, dia justru mengingat bahkan keberadaan Tuhan dalam realitas kehidupan ini. Dialah yang menawarkan bantuan dan solusi untuk semua masalah yang mengelilinginya saat itu. Dalam puisi ini, Chairil digambarkan sebagai orang yang percaya bahwa hanya Tuhan yang dapat memberikan petunjuk dan menunjukkan jalan keluar dari permasalahan yang sedang dihadapinya. Kata CahayaMu adalah kehangatan suci berarti cahaya (petunjuk) ilahi yang memberi kehidupan bagi setiap makhluk yang ada. Dalam keadaan sulit yang dialaminya saat itu, Chairil benar-benar berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ia percaya bahwa ia tidak dapat berbuat apa-apa kecuali dengan izin dan kuasa Allah. Semua ketetapan takdir yang menimpanya percayalah kepada-Nya. 

Tuhanku // aku hilang bentuk // remuk (bait 4 dan 5)

Saat itu, Chairil benar-benar merasa berada di titik terendah. Garis-garis itu menggambarkan kesadaran Chairil bahwa selama ini ia jauh dari Tuhan. Memang saat itu dia tidak bisa berpaling dari-Nya, dia sangat membutuhkan pertolongan-Nya, karena dia tahu hanya Tuhan yang bisa membantunya. Puisi di atas menggambarkan realita pergolakan batin yang dialami Chairil Anwar saat itu. Ketidakberdayaan dan gejolak batin Chairil karena dirundung masalah yang akhirnya menyadarkannya akan keberadaan dan kebesaran Tuhan. Putus asa, sepi, sendiri dan rindu membuat Chairil merasakan kehadiran Tuhan, meski masih ada pintu Tuhan yang coba ia ketuk. Chairil sadar bahwa dia jauh dan dia sangat ingin jarak ini hilang dan memungkinkan dia untuk bersatu dengan Tuhan.